“ …pemuda kita itu umumnya hanya mempunyai kecakapan untuk menjadi serdadu, yaitu berbaris menerima perintah menyerang, menyerbu dan berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin.”
Kalimat diatas dilontarkan Syahrir, berpuluh tahun lalu, tapi esens kalimat tersebut masih relevan sekarang. Kalimat yang bisa dengan mudah menjelaskan, kenapa aksi [yang distempel] beraroma kekerasan, dilakukan oleh pemuda (baca: mahasiswa).
Ya, tulisan gatal bin sok teu kali ini ditujukan khusus terhadap aksi para mahasiswa, tidak tentang aksi massa yang dilakukan oleh kaum proletar atau ormas berbasis agama, LSM atau lainnya, hanya tentang mahasiswa, pemuda, penerus negeri ini.
Aku pribadi bisa memahami betapa krusialnya posisi dan peran mahasiswa dalam usaha menggelindingkan roda revolusi. Sebuah tugas maha berat yang dipikul oleh beberapa (penggunaan kalimat ini hanya untuk menunjukkan sedikitnya jumlah mereka-mereka ini) pemuda. Dengan segala hormat, aku salut pada anda, butuh keteguhan hati untuk bisa tetap mempercayai harapan itu.
Tapi, juga menjadi catatan, bagian terbanyak dari pelaku aksi mahasiswa justru seperti yang dikatakan Syahrir di awal tulisan ini adalah serdadu… bergerak atas perintah, manusia suruhan. Dan jumlah yang banyak inilah yang biasanya bisa mengaburkan arah perjuangan sebenarnya, mendistorsi aksi protes dengan tindakan fisik/ kekerasan.
Karena cukup mudah untuk menyulut dimulainya tindakan tersebut, bahkan hanya butuh satu teriakan dan satu lemparan untuk menginisiasi gerakan selanjutnya. “Serdadu-serdadu” tersebut akan segera mengeksekusi tindakan tersebut sebagai perintah, tanpa berpikir bahwa tindakan ini akan menjadi kontra produktif kepada tujuan awal dia berdiri disana.
Anda marah?! Tersinggung?! Bagus…
Jadi sekarang anda punya alasan lain untuk membuktikan bahwa aksi dan demonstrasi yang pernah, tengah dan akan anda lakukan adalah tindakan berstrategi yang efektif. Sebuah pergerakan yang ditempa oleh jiwa dan fikiran yang jernih. Pemuda yang memotori pergerakan massa dengan tujuan yang jelas, dengan kemampuan untuk memanfaatkan peluang dan momentum. Tidak sekedar berteriak-teriak, mengusung spanduk dan poster,atau yang lebih parah melempar batu, bom Molotov, bakar ban, pemblokiran jalan…. mengatasnamakan Rakyat.
Ada yang perlu diperbaiki terhadap platform yang digunakan sekarang. Karena niat mulia itu menjadi tidak berarti jika tidak mampu tersampaikan, akan lenyap dalam serabut rapuh memori manusia dan berganti dengan efek samping dari tindakan anda-anda, yang aku bisa jamin, efek sampingnya akan bertahan lebih lama dari yang anda pikirkan. Bayangkan stigma jelek atas tindakan anda (yang sebenarnya berniat menolong mereka), yang anda bela mereject keberadaan anda. Ah ya, anda tak menginginkannya bukan, begitupun aku (karena aku percaya, perubahan ada ditangan generasi Muda bukan Tua).
Mungkin anda bisa mulai untuk membangun kembali jaringan yang hilang antara pemuda (motor penggerak perubahan) dengan rakyat ( dalam kasus ini dipersempit kepada kaum proletar dan rakyat miskin negeri ini). Membangun kedekatan dan ikatan kuat dengan golongan yang dibela –rakyat-. Sehingga jika ada pergerakan, maka pergerakan tersebut adalah pergerakan yang benar-benar memahami kebutuhan massa dan tidak sekedar mengambang -yang ujung-ujungnya hanya mampu mendefenisikan tentang massa-. Tentang siapa yang dibela tanpa menyentuh langsung dengan kaum yang dibela.
Sebagai pengingat, anda tidak sedang membela rakyat yang diperkosa hak-haknya oleh penguasa,yang hanya didekati saat menjelang pemilu atau pilkada, kaum yang dianggap remeh. Tidak, tapi anda sedang membela rakyat yang telah lelah, rakyat yang nyaris (atau bahkan sudah? ) putus asa.
Rakyat yang telah menghadapi cobaan, himpitan dan tekanan, berkali-kali, dan berkali-kali lagi, dalam cara dan derajat yang berbeda-beda. Situasi yang membuat mereka mulai berpikir bahwa ini adalah keadaan yang tidak bisa terelakkan lagi, pasrah, menyerah pada keadaan dan perlahan mulai memberi legitimasi: yah sudah nasib…. memang ini zaman edan, gimana lagi?
Melawan penguasa yang korup, cengkraman kapitalis dalam bentuk intervensi asing, tapi juga rakyat yang mulai memutuskan untuk menyerah dan bersikap apatis, adalah tugas yang kupikir, tidak akan selesai hanya dengan menggulingkan penguasa lalim dan mengambil alih hak-hak rakyat yang dikuasai kapitalis –agenda yang biasanya ada di benak aktivis-, apalagi dengan membuat aksi demonstrasi sarat kekerasan dan hujatan.
Jadi, Selamat Berjuang kawan! Harapanku cuma, semoga cita-cita itu tak lapuk dengan tawaran bergabung di bangku empuk kubu penguasa dan melupakan peluh keringat yang telah tumpah di aspal hitam yang berlubang, bagian dari pertiwi, milik kita, milik rakyat.
==========================
==========================
….Pergerakan digunakan untuk melepaskan amarah atau kejengkelannya pada siapapun. Menunjukkan dirinya dengan sangat radikal padahal ia sebenarnya saudara kembar dari semangat kelemahan, dari unsure psikologis yang sama, dari watak yang lemah, dari lemahnya urat syaraf dan otak untuk berfikir jernih. Tidak sedikit kaum yang terlalu radikal akhirnya menjadi kaum yang terlalu lembek… -kecemasan Syahrir-
22 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar


Pertamax 10rbu..
Emang harus dari atas yang sadar..
the goverment..
================
================
hahaha.. nunggguin atas yang sadar??
siyap-siyap jamuran kawan
Syahrir benar, kamu benar. Saya setuju. Perjuangan mahasiswa memang sepertinya masih mudah terdistorsi-didistorsi. Senang bisa baca tulisan berkualitas lagi.
==================
==================
Karena mereka mengemban misi yang penting bagi keberlangsungan negeri ini pak,
Jika ada kekurangan mereka, adalah wajar jika diberi kritik
tapi tidak dengan menyalahkan mereka dan mengecilkan perjuangan mereka.
aku hanya bisa melakukan ini, dan inilah yang kulakukan -tak sebaik para aktivis itu,memang-
tulisan berkualitas?
sungguh, terlalu mahal harganya jika idealisme yang gencar diperjuangkan akhirnya runtuh hanya demi mendapatkan kursi empuk alias komensasi lainnya.
saya hanya bisa berharap, mas, mudah2an idealisme mahasiswa tetap bersih dan terjaga, serta tidak mudah terbawa arus. demo pun akan lebih menarik simpati publik jika tdk perlu memacetkan jalan raya, apalagi sampai terjadi perusakan dan pembakaran.
===================
===================
aku juga berharap demikian mas, tapi bagaimanapun, itu tak semudah kenyataannya.
Saat tawaran demi tawaran menggiurkan disodorkan didepan hidung untuk dibarter dengan cita-cita dan idealisme, tak banyak yang masih bisa tetap berdiri di tempatnya semula.
lagi, yang dibutuhkan adalah kesadaran penuh, jiwa revolusioner yang dibungkus mental pejuang, seperti yang telah dicontohkan oleh, Syahrir, Moh Hatta, H. Agus Salim, M Natsir, Soekarno muda
Ah, mudah-mudahan, aku masih sempat melihat kehadiran pejuang besar yang mewarisi kebesaran beliau-beliau itu,
semoga mereka tau apa yang mereka lakukan, dan mereka tau untuk siapa mereka melakukan, semoga benar-benar untuk kepentingan rakyat..
========================
========================
semoga…
tak ada yang salah dengan tetap berharap mbak
Ternyata tidak semua yang turun demo ke jalan yang mengatasnamakan mahasiswa itu, berstatus mahasiswa. Buktinya dari beberapa orang yang ditangkap kemarin, sebagian ternyata bukan mahasiswa tapi memakai atribut mahasiswa.
==================
==================
maap mas, sejujurnya aku tak peduli apakah dia berstatus mahasiswa atau bukan, pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi atau tidak, bukan itu yang menjadi persoalan, tapi apakah dia memiliki tujuan yang sama dengan pergerakan ini, untuk Indonesia
bukan untuk segolongan, untuk satu agama, untuk satu kelompok atau satu partai
au ah,,, D
===============
===============
kawan…
kalau tadi yang dibicarakan adalah tentang sintentron atau idol-idolan atau acara bodoh sejenis, aku bisa maklumin jika komen anda seperti itu.
Tapi, ini adalah hal yang krusial, anda hidup di negara yang sama, mereka memperjuangkan negara, dan anda hanya bilang au ah???
ah.. entah aku harus komen apa lagi…
saya juga salut La, atas perjuangan mahasiswa yang tanpa lelah memperjuangkan rakyat, tapi alangkah bagusnya bila perjuangan itu dilakukan lebih “santun” lagi . Dengan begitu kami-kami ini (rakyat) akan kembali respek kepada mereka.
Karena kalo masih dilakukan dengan cara demikian tentunya akan menimbulkan tidak simpatinya atas perjuangan mereka .
Dan lagi rakyat tentunya semangkin bingung kalo namanya diseret-seret terus padahal keserbamahalan ini sudah membuatnya bingung .
Begini saja .. apakah perlu saya tambahi penghujungnya :mesem:
=======================
=======================
pemikiran kita sama
harapan kita sama
ya, kalau begitu tolong di tambahi penghujungnya (tapi ndak disini tentunya
)
Titip komen buat mahasiwa:
Saya sebagai salah seorang rakyat kok merasa bukan sebagai pihak yang diperjuangkan oleh gerakan mahasiwa itu ya? Apa karena tuntutan mereka ternyata tidak sejalan dengan tuntutan saya?
=====================
=====================
ya mungkin begitu..
jadi.. apa tuntutan anda?
[...] Serdadu- Serdadu Rakyat [...]
Kalo jaman skrg bukannya uda agak berbanding terbalik ya. Banyak yg pengennya jadi pemimpin dan bis merintah2x dan ga bekerja keras. Posisi elite dlm politik jadi dambaan. Mgkin hrs seimbang ya. Jiwa kepemimpinan harus punya, tp sifat merakyat jg ga boleh ilang.
Interpretasi gue thd pesen di paragraf pertama koq lebih ke arah sana ya
=========================
=========================
pengen jadi pemimpin karena ngiler dengan akses dan wewenang tak terbatas yang dimiliki pemimpin mas.
bukan karena niat memimpin rakyat.
pengejaran hedonisme
bukan mungkin
tapi harus
yang dimaksud Syahrir adalah mentalitas serdadu
Saya ndak bisa komentar banyak selain mengatakan bahwa saya sepakat dengan pemikiranmu, Ji….
Keprihatinan dan harapan yang sama juga yang ada pada saya saat ini terhadap pergerakan kaum muda di negara ini
==================
==================
toss dulu
kedan pulaknya
dan tetaplah on fire
keadaan sosial menentukan status sosial
semoga tidak bermutasi
====================
====================
itu dalam kawan
Anda benaaaaaaar!!!! kudu ada strategi jitu untuk bergerak… sepakat mas!
====================
====================
ya, agar perjuangan yang telah dilakukan tidak sia-sia
tidak mandeg
tidak tumpul
dan tidak dijadikan senjata makan tuan oleh tuan-tuan terhormat yang menikmati kekuasaan
[tertegun...]
.
.
.
.
.
…
[Hhhh...]
Suara hatimu sayang hanya mojok di salah satu sudut dunia maya, yang entah seberapa besar prosentase pengunjungnya adalah para mahasiswa, belum termasuk orang-orang yang hanya sekedar lewat…
Kau memang begitu, Ji
merubah sudut padang
merekonstruksi paradigma
memanfaatkan tulisan sebagai sarana aspirasi, sebenar-benar aspirasi
menukik lebih dalam
tajam
(dan… seharusnya…) menampar
Salam hangat, kawan
Aris
=================
=================
ya, sangat disayangkan ris,

atau kau mau menyebarkannya kepada yang lain?
tanpa kewajiban royalti
lagipula aku hanya sekedar menuliskan apa yang mengganjal di otakku
sebuah kebutuhan
bagiku
dengan keterbatasannya
jadi masalahnya apa sih?
*oon mode off*
Mahasiswa dan demo itu seperti campuran seonggok kopi dan sejumput gula. Bila Porposinya ga pas, ya ndak enak, pahit. cekak di tenggorokan.
harus pas memang. baru nikmat.
maaf ya komenku ndak mutu. wkekekeke
=================
=================
analoginya itu loh..
ya memang harus pas biar nikmat
*mutu ndak mutu diterima ikhlas*
[...] Serdadu-serdadu Rakyat [...]
berpikirlah jernih karena perjuangan itu bukan dengan kekerasan titik!
jika hari ini saia mati karena membela rakyat maka pastikan darah raga dan jiwa saia tetap terkubur di bumi pertiwi, jika hari ini saia berperang untuk membunuh sesama, demi membela tanah air, maka hargailah semua itu, jika hari ini saia di lahirkan untuk menjadi orang bijaksana maka beritahulah saia berapa orang yang tersesat, jika hari ini saia di lahirkan menjadi orang tesesat maka sudah kewajiban kalian untuk mengingatkan saia, jika eh kepanjangan ……..eni wey saia tersesat hehehehehe
*nawarin rokok*
==================
==================
padahal di awal komen dah pake titik, lah kok malah nambah satu alinea
tapi saia setuju dengan tambahan nya dan seperti kata urang minang: aa, tambo cieek
*ga ngerokok, tuker ama teh aja *
salam kenal dan slamat berjuang.
================
================
salam kenal kembali
akhirnya, sekian lama dalam sekapan rutinitas kosong, bisa keluar dan menikmati sajian internet
saya ingin tanya ini Mas Ji, dari semua paparan tentang demo demo mahasiswa yang sarat kepentingan, kekerasan, manuver politik dan segudang agenda lain, lantas siapa yang patut di salahkan? maaf Mas, saya tidak bermaksud hanya mencari kambing hitam atau aksi saling tunjuk kalau A salah dan B benar adalah benar?
*duduk manis menunggu penjelasannya*
========================
========================
Siapa yang patut disalahkan?
Adalah kita…
yang melakukan demo tanpa strategi yang jelas, sehingga tersulut oleh api provokasi, sehingga pemerintah jadi punya alasan untuk melegitimasi penangkapan para aktivis, menyebabkan perjuangan harus terhenti sejenak.
yang duduk empuk di kursi pemerintahan tanpa memberikan kontribusi kepada rakyat, menikmati fasilitas, privillage, lalu mengeruk dan mencuri sebanyak yang bisa
yang melihat perjuangan para mahasiswa dan aktivis pergerakan, lalu kemudian bersikap apatis karena melihat efek dari cara perjuangan yang mereka pilih, tanpa melihat diri sendiri, apa mereka pernah melakukan sesuatu untuk negara ini
yang melakukan
[...] kewajaran manusia dalam emosi. Saya ambil contoh paparan senior tentang Anarki di RI, juga cap serdadu serdadu rakyat, tapi tidak bisa memimpin dengan baik, hanya jadi orang suruhan, bahkan kalau boleh saya berkata [...]
bergerak dalam kebaikan
bergerak untuk kebaikan
======================
======================
setujuhhhh!!!!
kita manusia adalah makhluk pembelajar kali yaa..
tetap berjuang.. dan terus belajar di dalamnya.. dan terus menjadi lebih baik dengannya
satu yang pasti, jangan dikebiri energi perubahan itu
karena jujur, kita butuh energi tuk berubah..
=====================
=====================
hmmm… aku suka bagian ini
mantabs mbak