Langka

Ekonomi dibangun dari Langka, kemudian dari Langka terjadi Gerak, dan Gerak menuju ke Kekayaan, adalah sebuah pemikiran yang dirumuskan oleh Adam Smith.

Pada perkembangan selanjutnya menjadi proses berulang untuk mempertahankan keadaan langka tersebut. Menjadikan menyimpan atau menghimpun sebagai kegiatan penting bagi umat manusia, bentuk adaptasi dari keadaan Langka. Sesuatu yang harus dipersiapkan, diperhitungkan, Kecemasan dalam hidup, hidup dalam kecemasan…. Bagaimana jika kelak Langka mencecarku, cukupkah simpananku ini?

Oh ya, hanya orang yang telah kehilangan akal sehatnya yang mengatakan bahwa sebenarnya Langka hanyalah keadaan yang kita desain sendiri. Bahwa tindakan menyimpan dan menghimpun adalah fase kritis dari berkembangnya sifat rakus. Ya hanya orang yang telah kehilangan akal.

Tentu saja, itu benar, tanpa keraguan sedikitpun, karena lihatlah sekeliling, segala hal di ubah dalam format nilai tukar yang menyesuaikan kepada keadaan. Beras sekarung didapat dengan menukarkan 1/10 atau ¼ atau ½ atau seluruh gaji bulanan, selembar Ijazah didapat setelah ditukar 10 atau 20 atau ratusan juta. Sekian digit no induk pegawai didapat dengan menukar puluhan juta atau sebuah rumah atau sebidang sawah. Jadi.. ya tentu saja, kita harus menghimpun..sebanyak-banyaknya, agar bisa mengadakan pertukaran tadi.

Tak ada yang salah bukan? :mrgreen:

Kecuali bahwa kelak, -keadaan tak pasti yang penuh dengan kekurangan, yang terbit dalam setiap pemikiran nyaris seluruh manusia-, adalah sesuatu yang masih di awang-awang. Kita membenamkan pemikiran dalam kecemasan, ketakutan yang mendorong lahirnya kerakusan, keserakahan pada sesuatu di masa depan yang bahkan kita tak tahu apa masih berkesempatan mengecapnya atau tidak.

Kecemasan dan ketakutan yang menjadikan kesempatan untuk membantu, justru peluang untuk menghimpun kekayaan. Sebuah kesempatan untuk mempertebal daya tukar kita. Dan di titik yang sama menghasilkan reaksi balik, menjadikan keadaan Langka menjadi kenyataan. Ya, kitalah yang membidani lahirnya Langka dari rahim keserakahan.

Kita telah kehilangan rasa memberi.

Ah ya, jangan katakan bahwa ketika anda memberi sekian rupiah ke Mesjid atau Gereja atau tempat lain dengan tujuan beramal, tidak mengharap imbalan pahala (sebuah pertukaran rite? ;) ).

Maka ketika BBM , Gas, Pupuk, Beras, Minyak Goreng sulit ditemui, beberapa yang cukup “cerdas” membaca (atau merancang?) situasi kemudian menjualnya kembali dengan harga berlipat. Dan paradigma lama perlahan melipat, berganti dengan: Tuntutan ekonomi, atas nama perut, memberi makan anak istri (atau suami?), semuanya menjadi sah-sah saja. Bahkan dipuncak paceklik, kehadiran mereka menjadi dewa penyelamat, biar mahal yang penting ada.

Sadarkah kita, berteriak membenci kapitalisme, tercekik kapitalisme, tapi kita menggunakan kerangka dan pola pikir kapitalisme dalam mendesain kehidupan kita??

================================

================================

Engkau dilahirkan dengan potensi

Engkau dilahirkan dengan kebaikan dan rasa percaya

Engkau dilahirkan dengan keidealan dan mimpi-mimpi

Engkau dilahirkan dengan kehebatan, kekuatan

Engkau dilahirkan dengan sepasang sayap

Engkau tidak ditakdirkan untuk merayap, maka jangan!

Engkau punya sepasang sayap

Belajar menggunakannya dan terbanglah

-Rumi-

18 Komentar

  1. Yup… pola pikir yang menarik kang..
    Istilahnya kita merasa terang dalam sebuah kamar yang diterangi sebatang lilin.. [nyambung ga'?] hehe…

    Dan langka juga orang yang mempunyai pola pikir seperti sampean….
    Jika saja semua orang sama….. [hallah]

    =======================
    =======================

    Istilahnya kita merasa terang dalam sebuah kamar yang diterangi sebatang lilin…

    Tak bisa menemukan analogi lain yang lebih manis dari ini :) Yeah, you got the point

    Dan langka juga orang yang mempunyai pola pikir seperti sampean….

    Eh? masa sih.. waah, berarti saya perlu dilindungi yak :lol:

    Jika saja semua orang sama…..

    bukankah itu suatu hil yang mustahal? :mrgreen:

  2. sajak Rumi-nya nemu di buku yang mana ya? :P
    Oya, bolehkah berandai-andai? bila langka ada, maka adakah keberlimpahan?
    dan terakhir, salam kenal, bro
    *jabat erat*

    ==================
    ==================

    nemu di e-book :mrgreen:

    Kenapa berandai-andai? Tapi, ya tentu saja boleh, kan belum ada larangannya

    bila langka ada, maka adakah keberlimpahan?

    :) IMHO, hidup itu sendiri adalah keberlimpahan pak, bagaimana anda bisa menghirup sekian liter udara tanpa harus menakar dan itung-itungan jatah agar esok hari masih punya cadangan untuk dihirup. Bagaimana anda bisa berpikir tanpa harus tahu berapa milyar sel neuron dan sinapsis di otak yang sibuk mentransmisikan sinyal dari otak ke otot di seluruh bagian tubuh anda. Bagaimana ada cahaya matahari tanpa harus memikirkan berapa banyak reaksi fusi dan fisi yang terjadi di permukaannya sebagai sumber energi di bumi. Atau bagaimana anda bisa menemukan seseorang yang tiba-tiba menguasai, menggoncangkan sekaligus menenangkan jiwa anda, entah saat anda menunggu atau mencari *ditabok paman goop*
    Anda pernah mebayangkannya? maka itulah keberlimpahan yang ada dan begitu dekat dengan kita paman :)

    salam kenal juga paman
    *jabat erat*

  3. kesempatan yang ada juga terlalu langka Mas buat saya untuk jalan jalan atau istilah nya blog walking, di samping akses internet yang tidak menentu juga alasan lain yang sebenarnya tidak layak dijadikan alasan.

    Langka? berarti identik dengan unik, bisa juga jadi sorotan banyak mata, kalau saya tidak salah ingat, di beberapa training motivasi bisnis, kita selalu di tuntut untuk kreatif, inovatif atau jargon2 lain yang kadang makin njelimet, tapi pada intinya ke -langka- an lah tujuan akhir mereka, benarkah ekonomi tidak akan bisa berkembang kalau kata langk tidak pernah ada dalam kamus percakapan dan tulisan manusia?

    Kapitalis, apa yang salah dengan kapitalis? hanya sedikit orang yang yakin dengan keuntungan konsep yang satu ini, tapi kadang mereka yang vokal terhadap kemakmuran dan sekarut kata kata yang mengatasnamakan rakyat, cenderung oportunis, atau barang kali cara berfikir saya yang sedikit banyak oportunis.

    CMIIW

    ========================
    ========================

    kesempatan yang ada juga terlalu langka Mas buat saya untuk jalan jalan atau istilah nya blog walking, di samping akses internet yang tidak menentu juga alasan lain yang sebenarnya tidak layak di jadikan alasan

    Langka atau dijadikan langka? :mrgreen:
    Seringnya, alasan-alasan yang kita sampirkan adalah justifikasi dari ketidak pedulian kita ;)

    Langka? berarti identik dengan unik, bisa juga jadi sorotan banyak mata, kalau saya tidak salah ingat, di beberapa training motiviasi bisnis, kita selalu di tuntut untuk kreatif, inovatif atau jargon2 lain yang kadang makin njelimet, tapi pada intinya ke -langka- an lah tujuan akhir mereka, benarkah ekonomi tidak akan bisa berkembang kalau kata langk tidak pernah ada dalam kamus percakapan dan tulisan manusia?

    Yep, dalam beberapa hal, apa yang anda katakan adalah kebenaran yang kita pegang sekarang.
    Tapi ke-langka-an bukanlah tujuan akhirnya mas, sebab yang menjadi tujuan atau fokus adalah menjadikan mimpi menjadi nyata, entah sewaras atau segila apapun mimpi itu. Langka mungkin lebih tepat dianalogikan sebagai motor yang dipasang pada perahu, mempercepat laju perahu mencapai tujuan, sebuah nilai tambah, daya ungkit atau leverage – istilah yang banyak digunakan para motivator bisnis.
    Ekonomi tidak akan bisa berkembang tanpa keadaan Langka? :) IMHO jawabannya Ya dan Tidak. Ya, karena sistem kapitalis yang digunakan dunia saat ini mendukung wacana ke-langka-an tadi. Tidak, jika langka menjadi the only way untuk berkembang. Koperasi dan Bait Maal adalah sejumput yang tidak menganut sistem Langka namun kalah bersaing dengan Korporasi

    Kapitalis, apa yang salah dengan kapitalis? hanya sedikit orang yang yakin dengan keuntungan konsep yang satu ini, tapi kadang mereka yang vokal terhadap kemakmuran dan sekarut kata kata yang mengatasnamakan rakyat, cenderung oportunis, atau barang kali cara berfikir saya yang sedikit banyak oportunis.

    Jika anda pendukung teori evolusi Darwin, saya yakin anda tak akan keberatan dengan kapitalisme. Yang kuatlah yang akan menang dan menguasai yang lemah.
    Mengenai mereka yang vokal tapi cenderung oportunis? hehehhe… no comment lah :mrgreen:

    CMIIW too

  4. humm… 060111308 saya didapat gratis tis kok… :mrgreen:

    ==================
    ==================

    hahahaha.. aku tidak sedang menyindir anda kok jeung, tenang..tenang :mrgreen:
    tapi situ juga gak bisa menafikan bahwa segelintir lainnya mendapatkannya tidak gratis ;)

  5. Pemikiran yang menarik dan hebat. Tentu hasil sebuah perenungan yang mendalam. Pada intinya saya setuju dengan apa yang kamu tulis La.

    Tulisan macam tulisan kamu sangat langka La. Makanya, saya akan jadi pembacamu setiamu. He..he…

    Kamu sudah menutup tulisan bagus ini dengan puisi yang sangat menggugah, bahwa sebenarnya setiap kita, atau bahkan secara kolektif (bangsa ini) mampu bangkit berdiri, dan terbang tinggi bila mau dan bersungguh-sungguh.

    Sip La. Aku yakin kamu tak beranggapan seperti yang dikatakan komentar letsgetluz, bahwa kamu menganggap semua NIP pegawai adalah hasil menyogok. Mungkin ada beberapa, tapi tidak semuanya. Saya dapatkan NIP dengan tes dan bersaing ketat dengan pelamar lain.

    ============================
    ============================

    La ? :lol: :lol: :lol:

    Tulisan saya ndak sampe melewati fase perenungan yang mendalam pak bukan apa-apa.. ndak sanggup mikir mendalam Trus… sepertinya tulisanku juga gak langka pak buktinya udah digandakan alias di copas dengan tanpa tatakrama
    jadi pembaca setiaku ?? Ah..aku sangat tersanjung pak, anda mau meluangkan waktu membaca tulisan amatir seperti ini. Terimakasih :oops:

    Hehehe, memang itu tujuanku meletakkan puisi itu sebagai penutup post kali ini, semoga dapat tertangkap maksudnya :)

    Oh ya mengenai bagian “sensi” itu, :mrgreen: ya aku pikir jika kita tidak melakukannya tentunya kita tak perlu tersinggung dengan itu, dan ya akan ada nada bangga, seperti jeng luz and bapak tentunya, yang berhasil mendapatkan NIP tersebut secara fair dan sehat. Mendapatkannya dengan kemampuan diri bukan karena kemampuan materi atau koneksi ;)

    Dan tentu saja, aku memang tidak bermaksud menyinggung seluruh mereka-mereka yang memiliki NIP
    *kabuur* :lol:

  6. wah rumi nya bagus..

    ===================
    ===================

    he eh, mangkanya tak post mbak biar tulisanku keliatan keren gitu

  7. Maka ketika BBM , Gas, Pupuk, Beras, Minyak Goreng sulit ditemui, beberapa yang cukup “cerdas” membaca (atau merancang?) situasi kemudian menjualnya kembali dengan harga berlipat.

    itu bukan “cerdas” tapi …

    ah, sebel kalo ngomongin orang-orang yang begitu…
    Ngak punya duit beli BBM, jalan2 di kurangi. Or kalo bisa jalan or naik sepeda aja. or naik delman, apapun lah yang penting nggak pake BBM jalaninnya.

    Nggak punya minyak goreng, mending bikin rebusan aja. lebih rendah kolesterol :mrgreen:

    ===================
    ===================

    walah jeung… khan aku dah pake tanda kutip tuh

    Eh, iya tuh.. saya juga sebel *ikutan sebel* :)

    nah.. ide itu sebenarnya solusi yang cerdas (tanpa tanda kutip) dan murah tapi gak keren keliatannya.. kan ntar dibilang orang miskin, apa kata tetangga :lol:

    oh iya.. kerupuk rebus apa rasanya yah :lol:

  8. Ehem…!
    1. Nemu di e-book? :shock: Minta! :evil:
    2. Ada baiknya soal “langka” ini, kita wawancara saja para invisibler hands yang konon menjadi pengatur pasar sana. *Nggak jadi ngajak deh, biar saya sendiri. :razz: (ngomong apa sih aku ini?)
    3. …
    Aku mati sebagai mineral
    dan menjelma sebagai tumbuhan,
    aku mati sebagai tumbuhan
    dan lahir kembali sebagai binatang.
    Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
    Kenapa aku harus takut?
    Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.

    Sekali lagi,
    aku masih harus mati sebagai manusia,
    dan lahir di alam para malaikat.
    Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
    aku masih harus mati lagi;
    Karena, kecuali Tuhan,
    tidak ada sesuatu yang kekal abadi.

    Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
    aku masih akan menjelma lagi
    dalam bentuk yang tak kupahami.
    Ah, biarkan diriku lenyap,
    memasuki kekosongan, kasunyataan
    Karena hanya dalam kasunyataan itu
    terdengar nyanyian mulia;

    “Kepada Nya, kita semua akan kembali”

    -Rumi-

    *buru2 lari!, sebelum panci2 beterbangan!*

    ==============================
    ==============================

    ehem..
    1. akan dikirim dalam tempo yang tidak sesingkat-singkatnya

    2. betapa aku juga ingin bertemu dan menyembelih berkenalan dengan mereka, apa dirimu punya nomer mereka? :mrgreen:

    3. nah.. yang ini ni aku balik nanya… nemu dimana? :shock:

    *melemparkan panci-panci bersayap* :lol:

  9. haduh… saya nggak bilang Ji menggeneralisir semua PNS itu nyogok buat dapet NIP

    dan nggak merasa tersinggung kok, ya?

    *salaman*

    =======================
    =======================

    syukurlah kalau begitu jeung
    jadi aku ndak perlu susyah-susyah menjelaskannya lagi panjang x lebar :mrgreen:
    *salaman*

  10. Iya, tau. tetep cerdas tanda kutip itu masih terlalu baik… :twisted:

    Kalo memang miskin, ya akui aja. Peduli apa sama tetangga. Awalnya mungkin ngejek, tapi lama-lama bakal ngikutin juga. Sadar kalo mereka selama ini terlalu memaksakan diri… Tapi dengan catatan kalo tetangganya itu status ekonominya nggak jauh -jauh dr status ekonomi kita :mrgreen:

    oh iya.. kerupuk rebus apa rasanya yah :lol:

    ya aneh! :lol: bagaimana kalo kerupuk bakar? :cool
    atau, sekalian aja nggak usah makan pake kerupuk *kejam*

    =======================
    =======================

    lah.. aku kan emang baik :oops:
    *dihajar massa*

    hehehe, non familier gak dengan kata ini : hipokrit
    Negara ini tengah mengidap penyakit akut ini. Makanya jargon: hiduplah sesuai kemampuan, menjadi hal yang memalukan untuk dilakukan.

    Maka yang terjadi adalah keadaan paradoks

    Inflasi meninggi, harga melambung, pengangguran bertambah, tapi jumlah penjualan mobil meningkat (belum termasuk pasar mobil mewah), mall rame, smartphone (apalagi y 3G or 3.5 G ) jadi barang wajib (tapi pulsa cekak :lol: ) etc, etc,..
    tapi ya balik lagi ke personalnya juga sih, kalau dia nyadar atau kepepet keadaan dia pasti bisa milih mana solusi yang terbaik , halah sok teu aku :lol:

    bagaimana kalo kerupuk bakar? :cool
    atau, sekalian aja nggak usah makan pake kerupuk *kejam*

    kerupuk bakar? jadi arang dong :lol:
    iya kalau gitu mending aku ga jadi makan kerupuk aja

  11. @ lainsiji

    3. nah.. yang ini ni aku balik nanya… nemu dimana? :shock:

    .
    Wadduh, lupa aku :shock:
    *datang lagi ke pesugihan Mbah Google*
    .
    *dikasih wangsit*
    http://www.khamush.com/poems.html
    .
    Aaaaaa…….!!!!!
    *sound effect kena timpukan panci* :lol:

  12. Jadi ingat kuliah kemarin … ekonomi adalah buah dari pemikiran :)

    =====================
    =====================

    bukannya bidang lain juga sama? :shocked:

  13. Hipokrit? Paradok? Wah, iya. Indonesia ini memang banyak paradoknya dibanding negara lain….
    *ingat Edensor :P *

    smartphone (apalagi y 3G or 3.5 G ) jadi barang wajib (tapi pulsa cekak :lol: )

    That it! :lol: terutama bagian pulsa cekak… hmfh…… *megangin perut kejang nahan tawa*

  14. Mungkin ngga yah kita melepaskan diri dari kapitalisme? Soalnya dgn kondisi perekonomian dunia skrg yg full capitalism keliatannya seluruh negara dunia ketiga yg aslinya ngga menganut azaz kapitallis jadi terpaksa ikutan juga. Sikap kita sbg rakyat ya mgkin ngga akan jauh beda dgn paham itu. Susah memang.

    =================
    =================

    Dalam teori peluang, selalu ada probabilitas :)
    Sulit bukan berarti gak bisa kan? tapi jauh lebih mudah menganggapnya begitu.

    iyah susah emang

  15. usir kapitalisme!!!!!!!!!!!!!! :D

    ==================
    ==================
    *cengengesan liat achoey y teriak2*

  16. langka mencari orang jujur jaman sekarang :mrgreen:

    =================
    =================

    :mrgreen: ah masa sih
    *menunduk malu2* halah opo kie :lol:

  17. mau bagaimana lagi sejak jaman baheula orang berpikir dgn kerangka ‘kapitalisme’. kapitalisme itu bertahan sampai sekarang karena begitulah tabiat manusia. Bukan bentuk kenyataan sehari hari yg kita inginkan tapi beginilah kenyataannya :(

    =======================
    =======================

    Hahaha.. bentuk lain dari paradoksnya pemikiran manusia yak ;)
    tapi seringnya kita merasa sebagai sekedar korban dan bukannya pelaku :mrgreen:

  18. Asal jangan langka sabar aja!

    =================
    =================

    ho oh


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar